DISENGAT PUJIAN

Disengat Pujian

Dalam sebuah forum kepenulisan online, ada seorang anggota yang karya tulisnya memanen like dan komen. Bahkan salah satu penulis senior sempat membubuhkan pujian di kolomnya. Penasaran dengan setiap komentar yang hadir, saya menekan perintah next comment pada kolom tersebut. Saya terkejut karena menemukan seorang editor berbagai buku, bukan ikut memuji, justru memaki tulisan anggota tersebut dengan makian yang cukup garang; sampah, tak bermutu.

Iseng saya lihat balasan si penulis terhadap editor. Saya berfikir si penulis akan legowo mendapat cercaan setelah kenyang sanjungan. Dan mungkin ia akan membiarkannya begitu saja sebagai kritik yang membangun, bukan menghancurkan.

Namun yang saya dapati rupanya tidak demikian. Si penulis ternyata berang. Tak siap dimaki, jika niatnya memang bukan “tak ingin dimaki”. Si penulis pun balik memaki si editor dengan kalimat tak kalah pedas, dan perang komentarpun pecah.

Melihat kejadian itu, hati saya bertanya bisik, Benarkah manusia hanya siap dipuji? Apakah pujian selalu berakibat pada menolak makian?

Saat saya berusaha mencari jawaban, maka saat itu pula jawabannya hampir tidak ada. Karena hakikatnya setiap manusia selalu mengincar pujian. Mereka menanamkan dalam kepala masing-masing bahwa pujian adalah ganjaran atas berbagai prestasi yang telah diraih berupa kerja keras, kekayaan, fisik, keturunan, pendidikan, status sosial, dlsb. Hampir setiap aspek dalam kehidupan selalu menuntut pujian bagi pelakunya. Ini wajar. Menurut Maslow dalam teori Hierarki Kebutuhan-nya, pujian (esteem) adalah tujuan yang ingin diraih manusia sebelum diperolehnya pengakuan (aktualisasi diri). Dan secara bertahap, di setiap fase perkembangannya, manusia bisa menyaru apapun demi menemukan sumber pujiannya.

Pujian bisa saja menjadi sebuah sengatan yang mengobati. Ibarat lebah, sengatannya adalah obat; menyehatkan, dan menyembuhkan. Lain halnya dengan tawon, yang sengatannya sama sekali tidak memberi faedah, melainkan racun yang sedikit demi sedikit memberikan rasa sakit secara bertahap pada si korban.

Tidak. Saya tidak hendak menyejajarkan pujian dengan kedua binatang itu. Karena rasa-rasanya, pujian itu tidak sesakit digigit kedua mahluk mungil tersebut. Pujian itu selalu terasa indah, segar, dan menggembirakan. Saya hendak menyampaikan bahwa pujian selalu bermuara pada pilihan konsekuensi; menumbuhkan atau melenakan.

Dengan pilihan positif atas takaran yang sesuai dosis, pujian tentu saja akan menumbuhkan. Sebagaimana seorang anak akan tumbuh dengan percaya diri manakala orang tua mereka menabur banyak pujian.

Pun, pujian dalam situasi positif bisa menjelma menjadi booster berbagai macam semangat, dan optimisme. Para penerimanya biasanya akan semakin gencar meraih apa yang diinginkannya. Bergerak maju menangkap kesuksesan.

Berbanding terbalik dengan itu, pujian bisa juga membuat penerimanya tak sadarkan diri jika ditakar dalam dosis yang melebihi kadar. Akibatnya, si penerima tak jarang akan kolaps dengan kelenaan, melambung setinggi awan, dan melupakan kenyataan. Hidupnya mengambang di tengah hayalan untuk “harus” selalu dipuji, disanjung, dihargai, dan dihormati. Jika sudah begini siap-siap si penerima pujian menjadi pesakitan; mudah marah jika ada orang yang tak berkenan memujinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk orang yang menolak pujian berlebihan. Dalam sebuah riwayat Imam Nasa’i, Anas bin Malik menuturkan, “Ada beberapa orang memanggil Rasulullah sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anak orang yang terbaik di antara kami, wahai junjungan kami dan anak dari junjungan kami.’
Rasulullah segera menyanggahnya seraya berkata, ‘Wahai sekalian manusia, katakanlah sewajarnya saja! Jangan sampai kamu digelincirkan setan. Aku adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka (jika) kamu mengangkat kedudukanku jauh melebihi kedudukan yang dianugerahkan Allah kepadaku’.”

Sementara dalam riwayat lain, Abu Ma’mar menuturkan, “Ada seorang pria berdiri memuji salah seorang gubernur. Miqdad [Ibnul Aswad] lalu menyiramkan pasir ke wajahnya dan berkata, “Kami diperintahkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji.” (HR. Muslim no. 3002)

Cukup jelas rasanya jika kita tidak perlu merasa tersiksa dan merasa paling merana tanpa pujian.  Rasulullah saja yang jelas-jelas makhluk mulia---yang memiliki sejuta alasan untuk dipuji---begitu enggannya dipuji berlebihan. Lalu siapa kita yang memburu kalimat pujian dari manusia yang juga biasa-biasa saja?

Jika pujian datang, sila ucapkan “Alhamdulillah” karena sesungguhnya segala puji hanya milik Allah SWT. Jadikan itu sebagai penyemangat untuk setiap langkah sukses kita.

Namun jika datangnya berlebihan, eit.. jangan baper dulu! Bisa jadi itu sebagai perangkap agar kita menjadi lena, dan akhirnya jatuh terhina. Ada yang melakukannya pada kita? Ambil segenggam pasir lalu taburkan, siramkan, atau lemparkan pada si pemuji. Berani?

Oleh : Nurman Ramba

Ilustrasi : Dik