BIJAK BERMEDSOS DENGAN EMPAT SYARAT

Bijak BerMedsos dengan Empat Syarat

SYAR'I, AMAN, SEHAT, MANFAAT
Empat konten wajib yang perlu anda posting di medsos versi Sekum DPW PKS Jatim. Keempat hal tersebut terangkum dalam akronim SyAmSat.

  1. Syar’i—Postingan tidak bertentangan dengan nilai agama, nilai etika, dan nilai kepantasan.
    Pernah melihat sebuah akun yang dibully keroyokan di medsos? Coba cek, jangan-jangan akun tersebut terindikasi tidak syar’i.  Sekali nyetatus isinya curhat, maki-maki, galau, jumawa; uang gepokan dipamer-pamerkan, punya wajah bagus dikit langsung jepret, upload. Aurat tubuh diumbar, padahal kepalanya memakai jilbab, Naudzubillah.

    Untuk apa, untuk siapa, kenapa, apa visi-misinya berbuat demikian? Ikhwah Fillah, Ingatlah, bukan cuman netter yang akan memberikan feedback negative terhadap setiap postingan kita yang tak pantas. Tapi lebih besar dari itu, apa yang kita tulis, atau foto yang kita upload akan menjadi saksi amalan kita di akhrat. Mereka--- para foto cantik/ganteng kita, mereka--- barisan kalimat status kita, mereka--- aurat kita akan datang bergerombol di hari pengadilan meminta pertanggung jawaban kita.
  2. AMAN
    Kalau Syar’I saja tidak bisa dipenuhi, bagaimana bisa aman?
    Pernah dengar istilah crybercrime? Konon, itu adalah jenis kriminalitas yang lagi hits zaman now.
    Pencurian foto bayi, pencurian foto perempuan (kepalanya di crop, disambung di foto lain yang tak pantas), atau pencurian foto untuk kepentingan politik tertentu, hingga status yang isinya SARA, serta pencemaran nama baik.

    Untuk terhindar dari ketidakamanan dunia maya, pastikan sebelum posting kita bersihkan dulu niat, lalu ucapkan bismillah, cek kembali apakah postingan kita sudah nyar’I atau belum, dan terakhir, jangan menyebar kalimat atau konten negatif apapun jika tidak ingin berurusan dengan UU ITE.

    Kita tidak hanya berpotensi menjadi korban cybercrime bahkan bisa jadi kita adalah bagian dari pelakunya. Waspadalah..Waspadalah…
  3. SEHAT
    Medsos dan gawai adalah teman sejawat. Tak bisa dipisahkan. Candu terhadap medsos, pasti candu terhadap gawai.
    Namun hati-hati, keduanya bisa mengancam kesehatan fisik dan kesehatan mental.

    Dari sisi fisik, tangan kanan yang harusnya dipakai melakukan banyak kebaikan terancam pegal-pegal karena sering memegang mouse atau ponsel, mata berair, kepala pusing, belum tulang belakang yang berpotensi tidak lurus, dan kepala yang selalu ditundukan bukan untuk berdoa, tapi mengecek kolom like, komentar dan share.

    Pun dari sisi kesehatan mental, penggunaan medsos dan gawai yang berlebihan akan membentuk jiwa anti-sosial. Pernah lihat, sepasang insan yang duduk sampingan/berhadapan tapi tangannya sibuk di gawai? Atau kumpulan reuni sahabat, keluarga, atau apapun yang menghadirkan gawai sebagai alat komunikasi paling dominan ketimbang ngobrol secara normal? Yang dilihat? Beragam. Mulai dari ngecek IG artis, ngecek toko online, ngestalk foto liburan teman, dll.

    Perspektif komunikasi pun berubah dari “mendekatkan yang jauh” kepada “menjauhkan yang dekat.” Lalu prilaku aneh itupun menjelma menjadiNomophobia (no-mobile phone phobia)---sedikit-sedikit ngecek hp, bangun tidur ngcek hp, lagi makan ngecek hp, lagi silaturahim ngecek hp.

    Jangan menjadi na’as karena gawai, tetaplah berada di zona waras denganberkomunikasi semestinya bersama pasangan, orang tua, sahabat, atau anak.
  4. MANFAAT
    Masa berburu dan mengumpulkan makanan sudah usai, zaman batu telah tiada. Kebutuhan manusia tidak hanya soal perut lagi. Mereka membutuhkan pengetahuan, dan pengembangan diri. Maka postingkanlah konten apapun yang bisa menambah hikmah dan kebijaksanaan bagi manusia. Dengan demikian, postingan kita lebih berguna, berkah dan bermanfaat.