20 TAHUN PKS DI NAGORIJ VAN BANDOENG (REFLEKSI 20 TAHUN PKS DI KAB BANDUNG)

20 Tahun PKS di Nagorij Van Bandoeng (Refleksi 20 Tahun PKS di Kab Bandung)

Kumpeni menyebut Bandung tempo dulu sebagai Nagorij van Bandoeng; sebuah wilayah yang pada mulanya disebut Tata Ukur, dipimpin oleh seorang Wedana, Tumenggung atau Adipati yang berada dalam dominasi Kerajaan Sunda Pajajaran.

Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur adalah orang-orang yang pernah memerintah wilayah ini dengan status Adipati atau saat ini dikenal dengan nama Bupati.

Akibat pengaruh Kerajaan Islam Mataram, di bawah kepemimpinan Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung, Sunda Pajajaran sebagai kerajaan hindu pada akhirnya runtuh di tahun 1620. Maka wilayah Tata Ukur resmi didaulat Kerajaan Mataram.

Melalui Piagam Raja Mataram (Sultan Agung) pada tanggal 9 Muharam Tahun Alif, atau jika dimasehikan setara dengan 20 April 1641 M, Kabupaten Bandung berdiri sebagai sebuah wilayah di kawasan Jawa Barat. Juga sebagai daerah Bandung pertama di Priangan Selatan.

Merunut satu-persatu jejak sejarah Kab. Bandung yang pada 20 April 2018 berumur 377 tahun, muncul rasa takjub akan kerajaan terakhir yang berhasil menancapkan pengaruh, rupanya dipimpin oleh seorang muslim. Kakek buyut yang menjadi sesepuh bagi 4 Juta penduduk Kabupaten Bandung ini adalah seorang Sultan Agung, muslim taat dan kuat, yang menyebarkan Islam tidak hanya di Priangan, namun di seluruh penjuru nusantara.

Kemunculan adat, budaya, dan bahasa di Tata Ukur akhirnya terjadi dari akulturasi antara agama Islam yang dibawa oleh Mataram dengan khazanah kesundaan penduduk Bandung. Penyebutan Kabupaten misalnya, merupakan hasil dari perubahan status administratif yang dilakukan Mataram setelah sebelumnya bernama “Wedana Kabupaten” oleh kerajaan Hindu Pajajaran.

Adapula perubahan dari sisi bahasa, Mataram berhasil membaurkan antara Bahasa Sunda dengan Bahasa Jawa Kromo Inggil. Hingga masyarakat sunda mengenal istilah Unda-Unduk basa; sebuah tingkatan bahasa dari yang kasar, sedang (loma), sampai bahasa halus.

Melihat begitu mewahnya peninggalan yang diwariskan Kerajaan Islam Mataram di tanah sunda, maka sudah sepantasnya kita merenungi usia 377 Tahun Kabupaten Bandung bukanlah sekedar angka yang bermakna banyak dan tua. Melebihi itu, bilangan tersebut menunjuk pada angka yang banyak menoreh aroma Kejayaan Islam.

Lalu Bagaimana Geliat Islam di Kabupaten Bandung?

Kabupaten Bandung patut berbangga karena kekuasaannya berada dalam genggaman sepasang muslim yang taat, yaitu Dadang Naser selaku Bupati yang kental dengan pangaruh Sarekat Islam dan Gun Gun Gunawan selaku Wakil Bupati yang merupakan kader Partai Keadilan Sejahtera.

PKS sendiri adalah Partai Islam, yang menjadikan asas Islam sebagai semangat dan komitmen perjuangannya. Slogan berkhidmat untuk Indonesia Lebih Baik, menunjukan keseriusannya melayani masyarakat. Seperti khususnya di Kabupaten, saat memberikan bantuan untuk korban banjir di Baleendah, korban tanah longsor Ciwidey, gempa bumi Pangalegan, mendirikan Rumah Keluarga Indonesia (RKI) sebagai lembaga advokasi ketahanan keluarga, menyebar kesehatan melalui senam nusantara, membentuk grup-grup pengajian kecil yang manfaatnya dirasakan bagi penguatan spritual khalayak.

Bertepatan dengan Hari Jadi Kab. Bandung 20 April lalu, PKS pun merayakan pergantian umurnnya di tanggal yang sama. Bedanya, umur PKS belum menginjak abad. Umurnya terbilang masih muda. Meski secara psikologis, 20 tahun adalah masa dimana seseorang menjadi matang melalui berbagai pengalaman empiris yang dirasakan.

Salah satu kematangan yang saat ini telah dilalui PKS adalah kematangan dalam menembus tembok eksklusifitas. Keberadaan 5.435 Kader PKS di Kabupaten Bandung, dengan pendirian 31 DPC di tingkat Kecamatan dan 280 DPRa di tingkat desa/keluraha adalah wujud keseriusan PKS mematahkan stigma PKS sebagai partai ekslusif khusus anak muda, khusus golongan sarjana, dan khusus orang kota.

Kab. Bandung dalam hal ini tidak sepenuhnya dianggap desa, karena banyak infrastrktur yang terbangun secara ajeg, serta kemudahan-kemudahan sarana dan prasarana serupa di perkotaan. Namun tidak bisa dipungkiri, beberapa dari wilayahya juga masih berupa daerah pelosok yang sulit menjangkau informasi dan fasilitas umum. Oleh karenanya, metamorfosis PKS di umur ke-20 nya dari stigma ekslusif menjadi inklusif bisa dianggap sebagai gebrakan sekat yang menggembirakan di Kabupaten Bandung ini.

Mengapa?

Sebab, kini kader PKS di Kabupaten Bandung tidak hanya didapuk kaum muda, tetapi ibu-ibu dan juga masyarakat luas. Tidak hanya berdiam di pusat kota, tetapi di pelosok-pelosok kampung dengan jalan berbatu dan masih ditutupi hutan bambu. Tidak hanya anak kuliahan, tetapi lulusan SD, SMP, maupun SMA. Tidak hanya bapak-bapak berdasi, tetapi juga para tukang beca yang berpeluh mengayuh pedal. Tidak hanya ikhwan berpeci, tetapi para lelaki gondrong dengan gayanya yang khas.

Kegembiraan ini bukan sebatas hembusan angin. Indikator kasat mata lainnya juga tercermin dari kontribusi kemenangan PKS dalam memenangkan Pilgub 2008 dan 2013, juga Pilbub 2015 yang secara Jurdil memilih Gun Gun Gunawan sebagai amirul am wilayah Tata Ukur ini.

Jika dikiaskan dengan kekuasaan Sultan Agung, maka kehadiran PKS di Kab. Bandung layak dikatakan sebagai sinyal kembalinya aroma kejayaan Islam di wilayah Priangan Selatan.

Sebagaimana Sultan Agung yang tekun menjalankan perintah agama dan beribadah shalat lima waktu di masjid. Maka PKS melalui para kader dan pemimpinnya telah menjadikan masjid sebagai poros peradaban.

Sebagaimana Sultan Agung yang saban Jumat Jam 9 pagi telah bersiaga Shalat Jumat, PKS melalui kader dan pemimpinnya menjadikan hari Jumat sebagai bhakti lingkungan dan spiritualitas pada dirinya

Sebagaimana Sultan Agung yang mewajibkan seluruh rakyatnya dikhitan, PKS dan seluruh kadernya tak jarang mengadakan acara khitan gratis untuk masyarakat.

Sebagaimana Sultan Agung yang meluaskan pengaruhnya di seluruh Tatar Pasundan, PKS dan ideologinya kini diam-diam telah mencuri hati banyak orang di seluruh Jawa Barat.

Nr. July

HUMAS PKS KAB. BANDUNG